MEMAKNAI PUISI HANTU KOLAM, HANTU MUSIM, HANTU DERMAGA KARYA MASHURI
Mashuri
merupakan sastrawan yang berasal dari Jawa timur yang lahir di Lamongan, Jawa Timur, 27
April 1987. Alumnus Sastra Indonesia Universitas Airlangga. Menciptakan beberapa
puisi hingga menjadi buku merupakan salah satu aktivisnya.
Baik, kali ini saya akan menjelaskan makna dari
ketiga puisi diatas yang berjudul Hantu Kolam, Hantu Musim, dan Hantu Dermaga. Sangat
menarik bukan untuk judul puisi tersebut, karena yang paling menonjol dari
judul tersebut yaitu kata “Hantu”, dimana hantu merupakan sosok yang tidak
terlihat namun diyakini ada oleh manusia. Baik mari kita uraikan masing masing
dari puisi tersebut:
Hantu Kolam
: plung!
di gigir kolam
serupa serdadu lari dari perang
tampangku membayang rumpang
mataku berenang
bersama ikan-ikan, jidatku terperangkap
koral di dasar yang separuh hitam
dan gelap
tak ada kecipak yang bangkitkan getar
dada, menapak jejak luka yang sama
di medan lama
segalangnya dingin, serupa musim yang dicerai
matahari
aku terkubur sendiri di bawah timbunan
rembulan
segalanya tertemali sunyi
mungkin…
“plung!”
aku pernah mendengar suara itu
tapi terlalu purba untuk dikenang sebagai batu
yang jatuh
kerna kini kolam tak beriak
aku hanya melihat wajah sendiri, berserak
Banyuwangi, 2012-12-03
Puisi diatas merupakan puisi yang dapat dibilang
lumayan rumit untuk dimengerti, sangat membutuhkan ekstra pikiran yang
benar-benar fresh untuk memahaminya. Namun saya terpaku pada bait terakhir dari
puisi Hantu Kolam yaitu pada lirik:
“plung!”
aku pernah mendengar suara itu
tapi terlalu purba untuk dikenang sebagai batu
yang jatuh
kerna kini kolam tak beriak
aku hanya melihat wajah sendiri, berserak
Banyuwangi, 2012-12-03
Pada bait tersebut memunyai
arti bahwa sang penulis sedang dilanda kesepian, sedang dilanda rindu kepada
sang penciptanya. Kerinduan yang dirasakan sangat mendalam, kehidupannya yang
kosong seperti ada sesuatu yang hilang darinya. Bait tersebut menggambarkan
betapa dekat hubungannya dengan sang pencipta kala itu.
Untuk puisi berikutnya dengan judul Hantu Musim. Puisi ini adalah
sebuah bentuk rasa cinta yang diberikan sang pencipta kepada hambanya, dengan
cinta itu manusia akan berkembang. Manusia akan menemukan kembali dirinya.
Manusia akan menemukan, bahwa cinta begitu luas. Bukan hanya sekedar tentang
cinta kelawan jenis. Lebih dari itu. Berikut inilah puisinya:
Hantu Musim
Aku
hanya musim yang dipilih rebah hutan
Kenangan-memungut
berbuah, dedaunan, juga unggas- yang pernah mampir dibibir semi
Semarakkan
jemuan, yang kelak kita sebut
Pertemuan
awal, meski kita tahu, tetap mata
Itu
tak lebih hanya mengenal peta
Lama,
yang pernah tergurat berjuta masa
Bila
aku hujan, itu adalah warta kepada ular
Sawah
hasratku, yang tergetar oleh percumbuan
Yang
kelak kita sebut sebagai cinta, entah
Yang
pertama atau keseribu, kerna di situ, aku mampu
Mengenal
kembali siku, lingkar, bulat, peniuh
Di
situ, aku panas, sekaligus dingin
Sebagaimana
unggas yang pernah kita lihat
Di
telaga, tetapi bayanganya mengirimkan warna sayu, kelabu
Dan
kita selalu ingin mengulang-ulangnnya
Dengan
atau tanpa cerita tentang musim
Yang
terus berganti...
Magelang, 2012
Pada puisi kedua diatas
yang berjudul Hantu Musim merupakan puisi yang dirasakan oleh penyair saat ia
jauh dari sang penciptanya, kesepian dan kerinduan yang sedang melanda dirinya,
membuat ia merasakan sesuatu yang panas, sekaligus dingin. Selengkapnya yaitu:
Di
situ, aku panas, sekaligus dingin
Sebagaimana
unggas yang pernah kita lihat
Di
telaga, tetapi bayanganya mengirimkan warna sayu, kelabu
Dan
kita selalu ingin mengulang-ulangnnya
Dengan
atau tanpa cerita tentang musim
Yang
terus berganti...
Dapat dijelaskan makna
dari sepenggal puisi diatas yaitu tokoh aku merasakan panas sekaligus dingin
yang tak beraturan. Ia sedang mengingat saat saat ia berada disuatu tempat
namun ingatannya yang selalu memberikan ingatan kelabu yang pernah dirasakan
sebelumnya. Namun, dalam sepenggal bait tersebut sang tokoh ingin mengulang
kembali kisah sebelumnya dengan atau musim yang selalu berganti.
Baik, unutk puisi
berikutnya yaitu berjudul Hantu Dermaga yang menceritakan bahwa apapun yang ada
akan kembali pada penciptanya, segala kesulitan dan kemudahan tidak luput dari
sang pencipta. Lebih detailnya akan dijelaskan dibawah ini:
Hantu Dermaga
mimpi, puisi
dan dongeng
yang terwarta dari pintumu
memanjang di buritan
kisah itu tak sekedar mantram
dalihmu tuk sekedar bersandar bukan gerak lingkar
ia serupa pendulum
yang dikulum cenayang
dermaga
ia hanya titik imaji
dari hujan yang berhenti
serpu ruh yang terjungkal, aura terpenggal dan kekal
tertambat di terminal awal
tapi ritusmu bukan jadwal hari ini
dalam kematian, mungkin kelahiran
kedua
segalanya mengambang
bak hujan yang kembali
merki pantai
telah berpindah dan waktu pergi
menjaring darah kembali
Sidoarjo, 2012
Puisi berjudul hantu
dermaga ini menurut saya sangatlah membawa perasaan, karena menceritakan
kehidupan yang tiada kekal dan abadi, kehidupan yang akan selalu kembali pada
penciptaanya, bagaimanpun itu keadaanya. Kita harus menyadari bahwa apapun
usaha kita untuk selalu ada dan kekal tidak akan aada habisnya, tidak akan
selamanya ada. Maka dari itu berbuat baiklah setiap saat tanpa ada rasa dendam
dan rasa tercela lainnya.
Sangat menarik bukan
dari tiga puisi diatas karya Mashuri, semua puisi yang diciptakannya mengandung
unsur religi, dengan menggunakan unsur Hantu sebagai judul membuat orang atau
pembaca tertarik untuk menjamahnya, namun bagi saya puisi tersebut mungkin
hanya cocok untuk kalangan yang sudah mengenal betul tentang sastra atau puisi
yang menggunakan bahasa yang tinggi.
Puisi yang menggunakan
bahasa lumayan sulit dimengerti ini sangatlah membingungkan maknanya, karena harus
kita ulang ketika membaca puisi yang tidak cukup hanya sekali maupun duakali.
Komentar
Posting Komentar