SULASTRI DAN EMPAT LAKI-LAKI
Cerpen yang
berjudul Sulastri dan Empat Laki-Laki karya M. Shoim Anwar merupakan cerpen
yang dirasa butuh membaca secara intensif agar dapat memahami isi dari cerpen
tersebut. Dapat dilihat dan dibaca dari judul diatas, siapakah sulastri itu? Siapakah
empat laki-laki yang dimaksud dalam cerpen tersebut? Seperti yang sudah saya katakana
sebelumnya. Bahasa sang penulis saya rasa lumayan membingungkan, dan cerita
Sulastri dan Empat Laki-Laki ini memiliki makna yang ambigu. Karena, bisa saja
tokoh Sulastri tersebut mati dalam keadaan bunuh diri dan dia memanggil firaun
dan meminta pertolongan pada musa.
Cerita sulastri
dan empat laki-laki ini menceritakan tentang sosok prempuan yang bernama
Sulastri sedang berada di bibir laut merah. Nah pada saat itu ia kedapatan
seorang polisi yang memakai seragam biru. Namun, jika polisi tersebut menangkap
sulastri, tidak akan dimasukkan kedalam penjara. Namun akan diberikan kepada
mafia dan setiap yang ditangkap polisi ersebut akan mendapatkan imbalan uang,
dan lebih mengerikannya lagi ternyata mafia tersebut adalah orang yang
negaranya sama dengan Sulastri, yaitu Indonesia.
Setelah sulastri
berhasil menjauh dari polisi tersebut, sulastri secara tiba-tiba melamun
mengingat masa lalunya dengan suaminya yaitu markam. Markam adalah suami
Sulastri yang tidak pernah memberikan nafkah lahir batin kepada keluarganya. Markam
hanya mementingkan urusan pribadinya yaitu bertapa diujung bengawan solo. Jika diingat-ingat
sulastri sangatlah sedih atas kejadian yang dahulu menimpa dirinya. Setelah sadar
dari lamunannya, terdapat sosok yang tinggi, kekar, otot yang besar dan badan
yang tinggi besar. Sulastri mulai ketaktan dengan apa yang dilihatnay. Dengan begitu
sulastri lari sekencang-kencangnya agar terhindar dari firaun yang tetap
mengejarnya sedari tadi.
Kemudian,
sulastri bertemu dengan musa dan seolah-olah mendapat pertolongan melalui
tongkat musa yang diberikah kepada sulastri. Namun sebelum diberikan tongkat
kepada sulastri, sulastri meminta tolong kepada musa untuk dijauhkan dari
firaun yang sedari tadi mengejarnya. Dalam cerpen tersebut musa berkata bahwa “perempuan
ataupun laki-laki diwajibkan mengubah nasibnya sendiri”. menurut pemikiran saya
yaitu musa mewajibkan kaum hawa untuk tidak bergantung pada laki-laki. Karena yang
dapat mengubah nasib seseorang yaitu diri sendiri, meskipun memang pada
kewajibannya seorang suami hendaklah mengayomi dan menafkahi istri. Namun,
didalam cerita ini justru sang suami tidak memberikan apapun kepadaa sang
istri.
Setelah itu,
sulastri akhirnya tertangkap oleh firaun, badannya yang dipukul, rambut yang
ditarik hingga putus. Tak lama kemudian, musa memberikan tongkatnya kepada
sulastri dengan maksud supaya sulastri bisa melawan firaun, dapat membunuh
fraun hingga badannya menjadi hancur lebur. Pada saat itu pula sulastri dengan
yakin bahwa tongkat tersebut dapat membantunya melawan firaun yang jahat tadi. Namun
beberapa saat kemudian tongkat yang dipegangnya tiba-tiba hilang dan sulastri
kaget. Ia berpikir bahwa itu adalah mimpi, dan memang itu hanya mimpi. Dia terbangun
dan melihat disekitar, dia tersadar bahwa sedari tadi dia berada di bibir laut
merah. Seketika pula sulastri kaget dengan apa yang terjadi didalam mimpinya,
mimpi yng dapat dikatakan sebagai kembang tidur, namun dalam mimpinya terdapat
cerita yang bisa dibilang horror.
Cerpen sulastri
dan empat laki-laki ini ceritanya bisa dikatakan menarik. Karena cerita ini pun
memunyai alur maju mundur, dan terbongkar sudah empat laki-laki yang menjadi
tanda Tanya diawal sebelum membaca cerpen tersebut. Empat laki-laki yang di
maksud yaitu suami sulastri yakni Markam, polisi, musa, dan firaun. Cerita yang
sangat menarik karna nama tokoh yang dipakai yaitu musa dan firaun. Musa adalah
nabi dan firaun adalah raja yang terkenal jahat.
Jika dikaitkan
dengan dunia politik, memang sangatlah ada keterkaitan. Seperti yang dikatakan
musa tadi, ia hanya dibutuhkan saat pemilu tiba, meminta suara rakyat agar bisa
memenangkan jabatan yang dicalonkan. Sudah tidak asing lagi, sampai sekarang
pun masih ada tradisi demikian, yaitu memberikan suapan keapda rakyat kecil
supaya memilih dia dan memenangkan pemilu. Dana yang dikeluarkan pun tidak
sedikit, melainkan banyak harta yang harus dikeluarkan supaya mendapat hasil
yang maksimal. Segala cara pun bisa dihalalkan, tidak ada kata haram. Bahkan bisa
saja memakai ilmu untuk meurntuhkan para saingan, tidak sedikit kasus tersebut
yang sudah jadi perbincangan dalam masyarakat.
Jika diakaitkan
dengan religi yaitu keluarga yang sama sekali tidak diimpikan oleh kaum wanita.
Mengapa demikian? Karena keluarga sulastri merupakan keluarga yang tidak ada
rasa bahagia sama sekali. Sejak menikah dia tidak mendapatkan nafkah lahir
batin, anaknya yang tidak mendapat nafkah juga dari seorang ayah, bahkan markam
hanya mementingkan pusaka yang tanpa manfaat. Sulastri putus asa dengan
kehidupan tersebut sehingga dia memutuskan untuk menjadi seorang peminta.
Mengutip dari Nahdlatul Ulama,
Imam Al-Ghazali dalam kitabnya berjudul Al-Adab fid Din dalam Majmu'ah Rasail al -Imam Ghazali (Kaira, Al-Maktabah
At-Taufiqiyyah, halam 442) menjelaskan tentang adab suami terhadap istri
sebagai berikut:
"Adab
suami terhadap Istri, yakni: berinteraksi dengan baik, bertutur kata yang
lembut, menunjukkan cinta kasih, bersikap lapang ketika sendiri, tidak terlalu
sering mempersoalkan kesalahan, memaafkan jika istri berbuat salah, menjaga
harta istri, tidak banyak mendebat, mengeluarkan biaya untuk kebutuhan istri
secara tidak bakhil, memuliakan keluarga istri, senantiasa memberi janji yang
baik, dan selalu bersemangat terhadap istri."
Allah SWT dalam Surah Al-Baqarah ayat 228
berfirman yang artinya:
"Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang
dengan kewajibannya menurut cara yang ma'ruf. Akan tetapi para suami mempunyai
satu tingkatan kelebihan daripada istrinya. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha
Bijaksana."
Adapun cerita lain dari sulastri adalah seorang
wanita yang mendapat perlakukan tidak adil atau penyiksaan fisik. Kekerasan
tersebut ialah kekerasan secara fisik. Kekerasan fisik sendiri yang dialami
ialah ketika Sulastri saat tertangkap oleh Firaun dan rambutnya ditarik hingga
jebol. Hal tersebut sudah jelas sekali betapa menderitanya sulastri semasa
hidupnya. Mendapatkan suami yang sama sekali tidak ada tanggung jawab, padahal
memanjakan istri merupakan pahala yang besar untu pasangan suami istri.
Untuk
makna keseluruhan dalam cerpen tersebut, laki-laki sangatlah mendominasi. Bagaimana
tidak, markam seorang lelaki, firaun seorang lelaki, polisi seorang lelaki dan
musa juga seorang lelaki. Dapat dilihat juga diindonesia, para ejabat Negara banyak
yang berjenis kelamin laki-laki. Untuk perempuan pun dapat dihitung jumlah
pejabatnya. Hal tersebut menunjukkan bahwa laki-laki bisa mewujudkan apapun
yang diinginkannya, tanpa terkecuali. Hal itu juga dapat kita lihat bahwa
seorang wanita banyak yang dipandang sebelah mata dan dianggap akan selalu
berada dibawah naungan laki-laki.
Padahal
jika dihubungkan dengan aktualisasi kehidupan. Wanita merupakan orang yang
kuat, namun hatinya lemah. Perempuan bisa mela Antara Sulastri, Polisi, Markam,
dan Firaun, Musa. Sebenarnya kelima tokoh itu adalah suatu bentuk kesatuan.
Kenapa bisa seperti itu? Hal itu karena pada akhir cerita itu sendiri Sulastri terbangun dalam
tidurnya, tidak ada siapa-siapa, dan hanya dirinya. Sebuah akhir cerita yang
menarik.kukan pekerjaan yang dilakukan oleh seorang laki-laki. Sedangkan laki-laki
belum bisa menjadi sosok wanita yang kesana kemari mengurus atau menyetir
kehidupan.
Siapa pun tidak akan memungkiri keadaan fisik pria dan
wanita itu jauh berbeda, bahkan berlawanan. Siapa pun tahu bahwa wanita
diciptakan Allah penuh kelembutan, halus, dan peka terhadap keadaan lingkungan.
Keadaan ini membuat mereka cocok untuk tugas yang halus dan lembut. Sementara
itu, laki-laki yang kokoh dan kuat lebih memungkinkan bekerja keras dan berat.
Karena keadaan fisik ini pula, lelaki dan wanita mempunyai fungsi dan peran
khusus yang sama sekali berbeda dan tidak akan pernah sama.
Komentar
Posting Komentar