IDUL FITRI

 Idul Fitri merupakan hari kemenangan bagi umat Islam di seluruh dunia. Hari kemenangan setelah satu bulan penuh menjalankan ibadah puasa. Maka dari itu sekarang kita akan menyelami puisi yang berjudul "Idul Fitri" karya Sutardji Calzoum Bachri. 


Setelah penuh membaca puisi tersebut, kita akan memahami bahwa momen idul Fitri merupakan moment yang dilakukan seluruh umat didunia untuk menyucikan diri atau kembali fitrah. Hal tersebut dapat kita lihat dari bait pertama dalam puisi idul Fitri yaitu:


Lihatlah

Pedang tobat ini menebas-nebas hati

Dari masa lampau yang lalai dan sia

Telah kulaksanakan puasa ramadhanku,

Telah kutegakkan sholat malam

Telah kuuntaikan wirid tiap malam dan siang

Telah kuhamparkan sajadah

Yang tak hanya nuju ka’bah

Tapi ikhlas mencapai hati dan darah

Dan di malam-malam Lailatul Qodar akupun menunggu

Namun tak bersua Jibril atau malaikat lainnya 


Pada bait pertama menjelaskan tentang hamba yang memunyai banyak dosa dimasa lalu, dan akan menebus atau memperbaiki semua kesalahan terlebih pada saat bulan ramadhan. Bulan Ramadhan merupakan bulan penuh berkah, dan ketika malam Lailatul Qadar kita melalukan kebaikan maka itu lebih baik dari malam seribu bulan.


Maka aku girang-girangkan hatiku

Aku bilang:

Tardji rindu kau wudhukan setiap malam

Belumlah cukup untuk menggerakkan Dia datang

Namun si bandel Tardji ini sekali merindu

Takkan pernah melupa

Takkan kulupa janji-Nya

Bagi yang merindu insya Allah ka nada mustajab cinta

Maka walau tak jumpa denganNya

Shalat dan zikir yang telah membasuh jiwaku ini

Semakin mendekatkan aku padaNya

Dan semakin dekat

Semakin terasa kesia-siaan pada usia lama yang lalai berlupa


Pada bait kedua dari puisi idul fitri menceritakan tentang seorang hamba yang sangat bahagia saat idul Fitri telah tiba, karena ia sudah merindukan aktivitas wudhu ditengah malam, namun sekali ia merindu maka tidak akan pernah melupakan segala janjinya, meskipun ia tidak tahu bagaimana wujud sang pencipta. Semakin ia mendekatkan diri pada yang maha kuasa semakin ia menyadari bahwa kesia-siaan yang dilakukan semasa hidupnya yaitu melalaikan semua kewajiban. 


O lihat Tuhan, kini si bekas pemabuk ini

Ngebut

Di jalan lurus

Jangan Kau depakkan lagi aku ke trotoar

Tempat usia lalaiku meneggak arak di warung dunia

Kini biarkan aku menenggak marak cahayaMu

Di ujung sisa usia

O usia lalai yang berkepanjangan

Yang menyebabkan aku kini ngebut di jalan lurus

Tuhan jangan kau depakkan aku lagi ke trotoar

Tempat aku dulu menenggak arak di warung dunia 


Pada bait ketiga menceritakan tentang seorang hamba yang tobat, yang sedang memperbaiki diri dari masa lalunya yang kelam. Kini dia fokus untuk menjalankan kewajiban tuhan, dan meminta agar dijauhkan dari kehidupan kelamnya agar tidak terulang kembali


Maka pagi ini

Kukenakan zirah La Illaha IllAllah

Aku pakai sepatu sirathal mustaqim

Aku pun lurus menuju lapangan tempat shalat Id

Aku bawa masjid dalam diriku 

Kuhamparkan di lapangan

Kutegakkan sholat

Dan kurayakan kelahiran kembali disana


Pada bait keempat menceritakan tentang hamba yang sedang mencapai fitrahnya, bahagia karena sudah menuju puncaknya. Betapa bahagianya ia saat idul Fitri telah tiba. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SULASTRI DAN EMPAT LAKI-LAKI

TAHI LALAT

SISIK NAGA DI JARI GUS USUP