Simbol Dalam Lima Cerpen Karya Shoim Anwar Teori Jaqcue Derrida
Penulis
cerpen sudah banyak dalam era sekarang, tapi kita tidak mungkin lupa dengan
penulis cerpen yang satu ini yaitu Shoim Anwar. Benar, beliau merupakan
cerpenis nasional yang bekerja sebagai dosen di salah satu Universitas di
Surabaya. Dengan karya-karyanya mulai dari puisi, cerpen, dan masih banyak
lagi. Kali ini kita akan membahas lima cerpen yang berjudul “Tahi Lalat”,
“Sorot Mata Syaila”, “Sepatu Jinjit Aryanti”, “Bambi Dan Perempuan Berselendang
Baby Blue”, “Jangan Ke Istana, Anakku” kelima judul cerpen tersebut akan kita
bahas dengan menggunakan teori dari Jacques Derrida, menegaskan bahwa penanda
dan petanda tidak tetap, menciptakan ekspresi yang berbeda, berkaitan dengan
makna yang tak berujung, dan ketiadaan diluar pengartian manusia biasa. Dapat
disimpulkan bahwa penanda dan petanda tidak tetap, dengan begitu akan mememunculkan
presepsi baru dengan seiring berjalannya waktu. Dengan demikian, penanda dan
petanda akan dibahas berdasarkan presepektif yang berlandaskan teori dari
Derrida, sehingga akan memunculkan ekspresi atau makna yang berbeda dari apa
yang sudah dituliskan dalam lima cerpen karya Shoim Anwar.
Cerpen
yang berjudul “Tahi Lalat” sudah dapat dimaknai sebagai sesuatu yang kecil tapi
membuat orang penasaran di mana letak tahi lalat yang di maksud. Apabila
dikaitkan dengan semiotika dari Derrida akan memunculkan makna baru yang akan
dijelaskan dalam kutipan sebagai berikut:
Ada
tahi lalat di dada istri Pak Lurah. Itu kabar yang tersebar di tempat kami.
Keberadaannya seperti wabah. Lembut tapi pasti. Mungkin orang-orang masih
sungkan untuk mengatakannya secara terbuka. Mereka menyampaikan kabar itu
dengan suara pelan, mendekatkan mulut ke telinga pendengar, sementara yang lain
memasang telinga lebih dekat ke mulut orang yang sedang berbicara. Mereka
manggut-manggut, tersenyum sambil membuat kode gerakan menggelembung di dada
dengan dua tangan, lalu menudingkan telunjuk ke dada sendiri, sebagai pertanda
telah mengerti.
“Awas,
ini rahasia. Jangan bilang siapa-siapa!” kata Bakrul memulai pembicaraan sambil
mendekatkan telunjuknya ke mulut.
“Di
sebelah mana?” aku mengorek.
“Di
sebelah kiri, agak ke samping,” jawab Bakrul.
“Besar?”
“Katanya
sebesar biji randu.”
Mungkin
karena keberadaannya sudah lebih jelas, akhirnya orang-orang saling memberi
kode ketika berpapasan. Bila mereka sedang bergerombol, dan salah satu sudah
memberi kode, yang lain mengacungkan jempolnya sebagai tanda mengerti. Bagi
yang kurang yakin, pertanyaan akan langsung diteriakkan saat aku lewat.
Karena
tak ingin diteriaki terus, aku mengacungkan jempol. Teriakan itu memicu yang
lain untuk keluar rumah, lalu menuju pinggir jalan tempat aku lewat. Sebenarnya
aku tak enak juga mendengar ejekan terhadap lurahku, meski waktu pemilihan aku
tidak mencoblosnya. Maka, sebelum mereka berteriak, aku mengacungkan jempol
terlebih dulu. Tapi karena niatnya mungkin mengejek, teriakan mereka pun
bertambah santer.
Kode
yang diberikan oleh orang-orang memiliki makna yang lain yaitu sebagai
pengingat bahwa ada Pak Lurah dan istrinya sedang lewat dan juga sebagai
penanda. Petanda yang diberikan oleh orang-orang adalah ejekan dan juga
teriakan, meskipun dengan maksud mengejek tapi maksud dari petanda tersebut
bisa dikatakan sebagai rasa penasaran di mana letak tahi lalat tersebut.
Sehingga tokoh dalam cerpen tersebut melakukan tindak yang kurang menyenangkan
meskipun tujuan sebanarnya adalah ingin mengetahui letak persist ahi lalat itu.
Pada
cerpen berikutnya yaitu “Sorot Mata Syaila” diilustrasikan juga bahwa dilorong
gelap bawah tanah tokoh aku melihat istri pertama dengan kedua anaknya
digantung dan istri keduanya dengan kedua anakanya juga digantung karena
perilakunya. Tetapi ada petanda dan penanda implisit yang dapat dijelaskan
mengapa demikian. Akan diperkuat dengan kutipan sebagai berikut:
Baru
beberapa langkah berjalan, Syaila kembali membalikkan pandangan. Dia
mengangguk. Aku membalas. Tapi dia tak segera beranjak. Seperti ada isyarat
lain untukku. Aku pun berdiri. Syaila melangkah lagi. Ada kegamangan dalam
diriku. Kali ini aku mulai menangkap maksudnya saat perempuan itu kembali
menoleh dan mengangguk dua kali. Aku berjalan ke arahnya. Syaila melanjutkan
langkah ketika mengetahui aku mengikuti. Terasa ada dorongan yang makin kuat.
Aku meniti di belakang langkahnya.
Syaila
menuruni tangga ke lantai satu. Aku membuntut. Dia berbelok ke kiri, menuju ke
lorong yang makin sepi karena stan-stan di kanan kiri semuanya tutup. Suasana
bertambah senyap. Sesekali perempuan itu menoleh ke arahku dan mengangguk.
Sebuah isyarat agar aku terus mengikuti. Lampu-lampu makin meredup. Bunyi
sepatu perempuan itu makin jelas. Detaknya memantul ke dinding-dinding lorong
yang makin panjang. Abaya hitam yang dikenakan membuatnya makin samar dalam
keremangan.
Sampai
di pertigaan Syaila berhenti sejenak. Dia menoleh ke kiri dan kanan. Ketika
jarak antara kami tinggal dua tiga langkah, perempuan itu berbelok ke kanan dan
mempercepat langkahnya. Aku seperti tersedot mengikuti arusnya. Ternyata ini
bukan lantai terakhir. Di ujung lorong ada tangga ke bawah. Dengan langkah
makin cepat Syaila meluncur turun. Udara terasa makin pengap dan bau apak
mengambang. Lantai tak lagi rata. Di sana-sini ada bekas genangan air.
Kesenyapan hampir sempurna membalut. Detak sepatu itu terdengar makin cepat.
“Syaila…,”
aku memanggil. Dia menoleh sejenak dan mengangguk. Langkahku makin cepat karena
harus mengikutinya. Suasana makin meredup, tinggal satu dua lampu yang tersisa
di kejauhan sana. Ada kelepak melintas di depanku. Tubuh Syaila makin samar
dibalut remang. Seperti ada kekuatan yang menyedot langkahku untuk terus
mengalir. Pantulan detak sepatu Syaila makin menggema dari sudut ke sudut.
Lorong ini terasa makin sempit dan berkelok-kelok menyerupai labirin.
“Syaila…,”
aku menyeru. Tubuh perempuan itu makin menghablur. Yang kudengar kembali adalah
gema suaraku yang memantul-mantul makin keras. Lorong semakin berliku-liku.
Syaila tampak seperti bayangan melayang-layang dalam remang. Tiba-tiba ada
kabut dingin yang datang. Kembali kuseru nama Syaila. Dalam keremangan
samar-samar tampak dia menoleh dan berhenti. Aku melihat bola mata perempuan
itu merona dalam kegelapan, berpendar mengeluarkan cahaya kebiruan. Seperti
sepasang mata kucing hitam saat di sorot cahaya di kegelapan.
Kembali
aku menyeru. Tapi suaraku seperti tercekat di tenggorokan. Sorot sepasang mata
Syaila makin kuat menembus kabut. Seperti juga seekor kucing hitam, sosok itu
melayang dan menyambarku. Aku terjatuh. Tengkurap di lantai lorong yang basah.
Ada bunyi kelepak yang datang menyerbu. Makin riuh di telingaku. Aku membeku.
Beberapa
saat kemudian lamat-lamat ganti terdengar suara merintih-rintih memanggilku.
Aku berusaha merayap mendekat. Kata-kata “papa” yang disuarakan makin jelas.
Sepertinya ada beberapa suara yang memanggilku. Semuanya merintih dengan nada
kesakitan.
Lorong
ini bukan saja basah, tapi semakin becek dan pesing. Ada tetesan air dari pipa
di langit-langit. Aku merayap terengah-engah. Tampak seberkas cahaya di sana.
Sampai di tikungan lorong aku mendongak. Cahaya menyorot ke sana. Ah, aku
terkejut! Aku melihat istri pertama beserta kedua anakku digantung. Leher
mereka dijerat, kaki dan tangannya diserimpung seperti kepompong. Di sebelah
mereka aku juga melihat hal yang sama. Istri keduaku beserta dua anaknya juga
mengalami hal serupa. Dua orang istri dan empat orang anakku bergelantungan tak
berdaya. Seperti menunggu ajal yang segera tiba, mereka merintih-rintih
kesakitan.
Aku
berusaha meyakinkan diri. Ini bukan mimpi atau sekadar ilusi. Di lorong
terdalam Bandara Internasional Abu Dhabi, aku tak berdaya menolong istri-istri
dan anak-anakku yang sekarat menghadapi maut. Mereka digantung seperti kambing
habis disembelih untuk dikuliti. Barangkali ini adalah ujung dari hidup kami
semua. Aku ingin meronta, tapi suaraku tercekat di tenggorokan. Kaki dan
tanganku pun terserimpung di lantai lorong yang becek dan pesing.
Lalu
di manakah Syaila? Perempuan itu telah melenyap bersama gelap. Sosoknya
menghilang tanpa bayang. Sebagai kucing hitam, dia membenam dalam kelam. Aku
tersuruk di sini. Menatap kedua istri dan empat anakku yang hampir beku.
Seluruh tubuhku juga kaku dan beku. Kelepak itu pun datang kembali
bertubi-tubi, terbang mengitari tubuhku untuk dimangsa inci demi inci. ***
Ada
tiga hal yang akan kita bahasa pada kutipan tersebut, yang pertama mengenai
anggukan yang dilakukan Syaila dengan penanda, “mari ikuti aku, aku akan
mengajakmu ke suatu tempat” tetapi Syaila hanya memberi anggukan kecil dengan
jumlah tidak lebih dari tika anggukan. Dengna begitu ia bisa menyuarakan itu
dalam bahasa tubuh agar tokoh Aku mengikutinya. Lalu yang kedua, ungkapan
kucing hitam yang menjadi misteri bagi sebagian orang. Petanda kucing hitam sering
dikaitkan aka nada masalah atau hal yang menimpahnya, tapi pada kenyataannya
kucing hitam memiliki petanda sebagai misteri yang belum terpecahkan. Dengan
begitu Syaila yang menjadi kucing hitam adalah seorang yang misterius atau
bahkan bukan orang tapi jelmaan dari makhluk lain. Praduga tersebut pasti
menyelimuti para pembaca, dengan demikian dapat disimpulkan bahwa Syaila adalah
oranng yang misterius. Lalu yang ketiga bagaikan kambing habis disembelih,
ungkappan tersebut ketika ditinjau dari segi penanda maka kedua istri mereka
sedang mengalami sakaratul maut, penanda tersurat tersebut jelas mengatakan
bahwa akan bertemu ajal. Tapi nyatanya itu hanya bayang-bayang atau halusinasi
dari tokoh aku karena berbagai faktor yang terjadi di lorong gelap tersebut.
Maka makna yang didapatkan akan menjuru pada ilusi semata, sehingga simpulan
yang didapatkan bahwa isyarat dari orang misterius akan membuat kita
berhalusinasi dengan pernyataan yang ada atau dengan pesan implisit apalagi
dari sesorang yang baru dikenal.
Cerpen
selanjutnya berjudul “Sepatu Jinjit Aryanti” ini ada satu penanda di mana
sepatu jinjit tersebut menjadi saksi bisu. Yang akan diilustrasikan pada
kutipan sebagai berikut;
Aku
tak mampu menjawab kata-katanya. Ada kesan mendalam darinya. Lalu dia mengatakan
itu kata-kata diambil dari status temannya. Tapi aku merasa betapa bermakna
kata-kata itu saat ini. Kami sama-sama terdiam lagi. Aryanti kemudian melepas
sepatu jinjit sebelah kanan yang dikenakannya. Dilihatnya tanpa bicara.
Tiba-tiba aku ingin memegang sepatu itu. Aryanti melepaskan dari tangannya.
Sepatu jinjit itu aku amati, lantas kucium dengan pelan sambil memejamkan mata.
Belum
usai aku mencium sepatunya, kembali Aryanti memelukku makin kuat sambil merebah
ke pangkuanku dengan rambut tergerai. Degup napas di dadanya makin terasa.
Aryanti dan sepatu jinjitnya kupeluk di dadaku. Kurebahkan pula tubuhku di
tubuhnya. Makin rapat dan rapat. Sama-sama tak tahu, apakah ini perjalanan
terakhir buat aku dan dia. Adakah sepatu jinjit Aryanti ini yang kelak menjadi
saksi jika kami dihabisi? Ah….
Tokoh
Aku dengan sadar mencium sepatu jinjit Aryanti sebelah kanan dengan memejamkan
mata, ditinjau dari pernyataan tersebut penanda yang dapat diambil yaitu
mengenai bagaimana sepatu itu menjadi saksi bisu tokoh Aku dan Aryanti yang
akan diproses dengan kelompoknya. Dengan begitu petanda yang didapat bahwa
tiba-tiba tokoh aku ingin memegang sepatu jinjit Aryanti, dengan pernyataan
tersebut secara implisit dijelaskan bahwa tokoh Aryanti memberikan isyarat bahwa
hanya ia yang dia punya. Melalui pemerian dari sesorang di masa lalu, tampak
Aryanti akan merelakannya bersama tokoh Aku.
Cerpen
berikutnya yaitu berjudul ‘Bambi Dan Perempuan Berselendang Baby Blue”
dikisahkan bahwa Anik yang menyindir Miske dengan terang-terangan tapi adanya
petanda yang tersirat dalam kutian narasi sebagai berikut:
Miske
yang berkulit putih bersih itu tersenyum. Ada behel berhias permata di
sepanjang gigi atasnya, semacam pagar untuk menekan agar posisi gigi tidak
tonggos ke depan. Keberadaannya amat kontras dengan Bambi yang berkulit
cenderung gelap plus muka agak bopeng-bopeng. Beberapa saat kami lantas
terdiam. Bambi mengusap lehernya dengan sapu tangan warna cokelat. Napasnya
terdengar mendengus karena kepayahan. Perempuan itu bibirnya masih menahan
senyum sambil melihat Bambi.
Tak
heranlah saya kalau perempuan muda itu lengket di pelukan Bambi. Sudah bukan
rahasia lagi kalau perempuan muda belia yang suka keluar malam menjalin
hubungan dengan lelaki berumur. Bagi sang perempuan, umur dan kegendutan Bambi
mungkin tak masalah. Yang penting uang dan kesenangan dapat diperoleh dengan
mudah. Kesadaran utuh mungkin telah ada pada diri perempuan itu bahwa Bambi
memang harus diperas hartanya dan digunakan perempuan itu untuk mempercantik
penampilan guna bersenang-senang dengan para lelaki lain yang lebih muda.
Perempuan
muda itu mungkin tidak hanya minta behel, selendang baju, kaus, celana, tas,
sandal, sepatu, perhiasan, telepon seluler, benda-benda kesukaannya,
makan-makan, tapi juga pelesiran ke tempat-tempat yang jauh dengan naik pesawat
dan tidur di hotel berbintang. Dengan bermain dua muka, mungkin juga lebih,
perempuan muda itu ingin mempertunjukkan penampilan glamornya di hadapan
teman-temannya pula.
Dalam
ilustrasi tersebut ada dua penanda yang akan dibahas, yang pertama mengenai
kontras kulit sebagai penanda bahwa ada sesuatu yang berbeda dan mencolok yaitu
warna kulit. Dengan demikian penanda tersebut bisa dimaknai bahwa putih selalu
terang ketika disejajarkan dengan hitam dan juga memberi kesan hitam selalu
kotor dan berantakan dijelaskan pada kutipan diatas ketika Anik bergumam, “Bambi
yang berkulit cenderung gelap plus muka agak bopeng-bopeng” selanjutnya
ungkapan dengan bermain dua muka sebagai penanda bahwa Miske memainkan peran di
hadapan Bambi atau biasa disebut sebagai munafik. Dengan memanfaatkan hal
tersebut ada sesuatu yang ingin dicapai
dari Bambi yaitu harta yang akan dia berikan dengan timbal balik hubungan yang
lebih intim. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kedua penanda tersebut
dijelaskan dan bisa dimaknai dengan berbeda dan bisa diduga sesuati dengan
konteks cerita.
Cerpen
yang terakhir yaitu berjudul “Jangan Ke Istana, Anakku” merpakan cerpen yang
mengulas kehidupan di dalam dan di luar istana. Tokoh aku/Papa tidak ingin
anaknya masuk ke Istana, ia berharap anakny Dewi hidup bebas diluar istana,
yang akan diperkuat dalam kutipan sebagai berikut:
Burung-burung
saja yang bebas keluar masuk istana, berkicau memadu asmara di pohon beringin
tua sambil menikmati buah-buahnya hingga berjatuhan di halaman. Baginda dan
permaisuri mendengarkan kicauannya di teras, sambil menyeruput kopi dengan
aroma dupa di ruang sesaji. Para penjaga bersiap waspada di tiap pojok istana.
Sesekali putri kecilnya muncul juga ke teras, dibelai halus oleh baginda. Tapi
sang abdi, dengan sikap membungkuk-bungkuk kayak kura-kura, segera mengajak
kembali sang putri ke taman keputrian. Tak banyak yang tahu seluk-beluk ruang
istana di dalam sana. Hanya baginda dan keluarganya saja yang berhak. Para penjaga
tak ada yang berani mendekat.
Aku
ingin membangunkan gubuk untukmu, Anakku. Bukan istana, sebab pada gubuk di
tepian sawah kau bisa memandang udara terbuka dengan angin semilir
menggoyangkan dahan-dahan dengan cinta. lihatlah parit-parit kecil dipenuhi
ikan bersuka, bening seperti bola matamu yang memandang bukit hijau berhuma.
Kau bisa beranjak dan berlarian sepuas rasa, memburu capung dan kupu-kupu di
pematang berbunga. Siapa yang kau cinta datanglah tanpa penjaga. Ajaklah meniti
pematang sambil bergandeng tangan. Seseali kau akan terjatuh. Dan dia menahanmu
dengan tawa dan lengannya.
Masa
kecilku yang indah terlalu segar dalam kepala. Kuingin putriku pun bisa
menikmatinya. Tapi istana telah merampas sebelum hidupku jadi paripurna. Akulah
sang prajurit muda. Masuk ke lingkaran istana untuk menjadi penjaga dan
mengamankan tahta. Tak ada yang mampu menolak, sebab istana merasa punya hak
untuk mempekerjakan siapa saja yang dikehendakinya. Penolakan adalah
pembangkangan luar biasa dan dinilai anti istana. Nyawa menjadi taruhannya.
Ada
dua hal yang akan dibahas paada kutipa diatas, yang pertama yakni mengenai
“dibelai
halus oleh baginda. Tapi sang abdi, dengan sikap membungkuk-bungkuk kayak
kura-kura, segera mengajak kembali sang putri ke taman keputrian.”
Kutipan tersebut secara
eksplisit menjelaskan bahwa sang abdi adalah seorang yang sepuh atau biasanya
sebagai penasihat kerajaan, dengan demikian kehidupan di kerajaan tidak akan
berubah sampai sang abdi tersebut meninggalkan dari dunia. Lalu yang kedua,
mengenai
“Masa
kecilku yang indah terlalu segar dalam kepala. Kuingin putriku pun bisa
menikmatinya. Tapi istana telah merampas sebelum hidupku jadi paripurna.”
Kata segar dalam kepala adalah ingatan tersebut masi melekat pikiran tokoh Aku. Dengan derita yang ditanggung saat iti penanda yang dimaksud adalah kepulang ingatan yang telah lama dipenjara oleh istana yang memekerjakannya selama lima belas tahun tanpa pernah keluar dari istana tersebut. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa sang abdi adalah dalang dari istana tersebut, ia yang menguasai seluruh istana. Mulai dari penjaga, raja dan permaisurinya bahkan putrinya, serta adat istiadat yang berlaku di istana. Sejatinya konsep tanda dan penanda yang dikemukakan oleh Derrida di dalam mashab dekonstruksi menganggap bahwa penanda dan petanda tidak tetap, dengan begitu akan memeuncukan presepsi baru dengan seiring berjalannya waktu. Sehingga adanya kecenderungan berfikir oposisi biner yang bersifat hirarkis dan bahasa lisan/tulisan dapat menimbulkan sesuatu diluar teks
DAFTAR PUSTAKA
Nurgiyantoro,
Burhan. 2013. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta. Gajah Mada University
Press
Susanto, Anthon Freddy. 2005. Semiotika
Hukum dari Dekontruksi Teks Menuju Progresivitas Makna. Bandung. Refika Pratama
Wellek, Rene dan Warren Austin. 2016. Teori
Kesusastraan. Jakarta. PT Gramedia Pustaka Umum.
Komentar
Posting Komentar