Ulama Durna Ngesot ke Istana

 BAIT PERTAMA 

Lihatlah

Sebuah panggung di negeri sandiwara

Kapan ulama durna ngesot ke istana

Menjilat pantat raja agar diberi jatah remah-remah

Maka kekuasaan menjadi sangat pongah

Memesan potongan-potongan ayat untuk diplintir sekenanya

Agar segala tingkah polah respon absah


Makna Bait pertama yaitu terdapat sebuah negeri yang penuh dengan kehidupan sandiwara. Seorang tokoh yang bernama Durna, rela melakukan hal kebodohan agar diberi suatu jabatan yang diinginkan. Berbicara panjang lebar yang berniat menarik simpati para penguasa. Segala cara dia lakukan agar mendapat jabatan yang dia inginkan. 


BAIT KEDUA

Lihatlah

Saat ulama durna ngesot ke istana

Menyerahkan marwah yang dulu diembannya

Sengkuni dan para pengikutnya di luar sana

Bertingkah sok gagah berlindung di ketiak penguasa

Menunggang banteng bermata merah

Mengacungkan arit sebagai senjata

Memukulkan palu memvonis orang-orang ke penjara


Makna Bait Kedua 

Lihat. Saat durna datang ke istana, menyerahkan nama baik yang pernah dibawanya. Para penghasut yang memunyai segala tujuan jahat yang sudah direncanakannya, dan para pengikut yang terlihat gagah namun memunyai nyali yang ciut. Dengan kemarahan yang sudah ada diubun-ubun, senjata yang diacungkan sebagai pelindung diri, dan mereka pun yang memutuskan orang-orang yang akan dihukum. 


BAIT KETIGA

Lihatlah

Saat Ulama Durna berdagang mantra berbusa-busa

Adakah ia akan menyulut api baratayuda

Para pengikutnya mabuk ke lembah-lembah

Tatanan yang dulu diciptakan oleh para pemula

Porak poranda dijajah tipu daya

Oh tahta dunia yang fana

Para begundal mengaku dewa-dewa

Sambil menuding ke arah kawula

Seakan isi dunia diuntal mentah-mentah


MAKNA BAIT KETIGA

Lihat, saat durna mengobral segala ucapan untuk menarik perhatian para penguasa. Semua yang dia ucapan tidak ada kebijakan apapun, namun dia terus saja bersuara. Segala yang diciptakan dulu, kini kacau balau oleh tipu dayanya. Oh ternyata dunia yang tanpa kejelasan, para penjahat bertopeng mengaku sebagai para penguasa, dengan menuduh para rakyat kecil yang seakan dunia itu tidak ada arti. 


BAIT KEEMPAT

Lihatlah

Saat ulama durna ngesot ke istana

Pada akhir perebutan tahta di padang kurusetra

Ia diumpankan raja ke medan laga

Terhenyaklah saat berita terkabar

Anak hasil perzinahannya dengan satwa

Telah gugur mendahului di depan sana

Ulama Durna bagai Kehilangan seluruh belulangnya

Ia menunduk di atas tanah

Riwayatnya pun sudah berakhir

Kepalanya terpenggal karena terpedaya

Menebus karmanya saat baratayuda

                                               Desember 2020

 Makna bait ke empat

 Pada akhir cerita perebutan tahta, dia dipergunakan pejabat ke tempat perang. Hilanglah saat berita tersebar, bahwa anak hasil perzinaan telah terungkap. Gugur lebih dulu sebelum peperangan. Durna kehilangan seluruh yang dia punya untuk kesekian kalinya, menunduk seakan malu, riwayatnya sudah berakhir, dirinya terpenggal seakan akan tidak ada daya. Karma nyata yang sedang menimpa dirinya atas perbuatan yang telah dilakukan. 

                                             

Aktuali dengan kehidupan sekarang

Pada zaman sekarang, banyak para manusia yang gila jabatan untuk memperoleh sebuah keinginan yang diimpikan. Berbagai cara dihalalkan untuk mendapatkannya.                                              

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SULASTRI DAN EMPAT LAKI-LAKI

TAHI LALAT

SISIK NAGA DI JARI GUS USUP